Siapakah Ratna Sarumpaet Sebenarnya?

Akhir-akhir ini, berita tentang RATNA SARUMPAET begitu santer diberitakan diberbagai media. Baik media elektronik, maupun media cetak. Apalagi di Media Sosial, saban hari kita melihat postingan dan ulasan mengenai ibu satu ini. Oleh karena itu, sehubungan lagi rame-ramenya bahas si nenek (sebutan para netizen untuk Ratna Sarumpaet), udah ada yang kasih kuliah twitter (kultwit)-nya nih, WUJUD ASLI SI RATNA SARUMPAET.

Siapa Ratna Sarumpaet Sebenarnya?

RATNA SARUMPAET YANG MENGERIKAN
Ratna Sarumpaet
Ratna Sarumpaet adalah salah satu aktifis Indonesia yg cukup dikenal. Sejak dahulu dia terbiasa bersuara lantang. Sebagai aktifis Ratna Sarumpaet juga pernah merasakan tidur dibalik jeruji besi(penjara), namun semua itu tidak melunturkan keberaniannya. Awalnya Ratna Sarumpaet adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Namun pernikahannya dgn Achmad Fahmy Alhady tidak berjalan lancar. Ratna Sarumpaet memilih mengakhiri rumah tangganya bersama Achmad Fahmy Alhady karena tidak mau di poligami. Buah pernikahan mereka adalah 4 orang anak: Mohammad Iqbal Alhady, Fathom Saulina, Ibrahim Alhady dan si cantik Atiqah Hasihon.
Ratna Sarumpaet bersama Atiqah Hasiholan
Selanjutnya Ratna Sarumpaet banyak bergerak di bidang seni, khususnya seni teater. Banyak sudah pementasan yg dia lakukan. Karya Ratna Sarumpaet yg paling fenomenal adalah "Marsinah Menggugat" Dia sendiri yg menulis naskahnya. Kasus Marsinah ini pula yg menjadi pendorong Ratna Sarumpaet kemudian terjun di dunia politik sebagai aktifis. Sebagai tokoh yg diakui di dunia seni, ratna Sarumpaet pernah dipercaya menjadi Ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Namun pada saat menjadi Ketua DKJ inilah Ratna Sarumpaet sempat tersandung sebuah skandal yg cukup memalukan, yaitu kasus pemindahan 322 benda koleksi seni rupa milik DKJ ke rumah pribadi Ratna Sarumpaet secara sepihak dan diam-diam. Meski awalnya mengaku telah disetujui rapat pleno, namun setelah didesak para seniman akhirnya yang bersangkutan mengakui bahwa tidak ada rapat pleno. Meskipun begitu, kiprah Ratna Sarumpaet di kalangan aktifis kemanusiaan tidak perlu diragukan. Banyak penghargaan yg telah dia terima. Sikap lugas Ratna Sarumpaet ini bisa jadi didorong oleh sifat keras kepalanya. Dalam beberapa hal dia cenderung bersifat otoriter, salah satu contohnya adalah ketika dia mengadakan gerakan yg dinamai MKRI (Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia).

Pada saat itu Ratna Sarumpaet meminta akun @kurawa membantu dukung MKRI tersebut. Namun konsep MKRI itu sangat absurd. Mereka ingin menurunkan SBY dan dan membentuk MKRI yg akan memutuskan presiden pengganti. Ketika ditanya siapa yg akan memilih anggota MKRI beliau tidak bisa jawab. Pokoknya turunkan dulu SBY! Ketika ditanya apakah akan dilakukan pemilu ulang untuk memilih wakil rakyat, beliau juga tidak setuju, karena DPR hasil pemilu korup dll. Jika MKRI yg berhak memutuskan presiden baru, lalu siapa yg berhak memutuskan anggota MKRI? Beliau tidak bisa jawab sama sekali.

Dari sini kami berkesimpulan MKRI adalah gerakan absurd dan Ratna Sarumpaet adalah seorang yg tak layak didukung! Dari sini pula kami tahu Ratna Sarumpaet bukanlah seorang yg demokratis. Bahkan saat itu dia tidak setuju adanya pemilu. Kami sempat membuat kultwit yg mengkritik tentang MKRI dan menasehati Ratna Sarumpaet utk membatalkan rencananya. Kami sampaikan pada beliau bahwa sebentar lagi kan akan pemilu dan SBY sudah pasti akan diganti. Mengapa repot2 bikin gerakan spt itu, namun karakter Ratna Sarumpaet memang keras kepala. Dia tetap keukeuh dg rencananya betapapun tidak masuk akalnya.

Dan benar saja, Ternyata gembar-gembor Ratna Sarumpaet tidak terbukti. Dari yg katanya tiga ribu demonstran yg hadir tidak sampai seratus. Itupun ternyata gerakannya berubah menjadi acara bagi2 sembako. Jadi yg datang itu cuma mau minta sembako saja. Memasuki panasnya suasana pemilu kami pikir Ratna Sarumpaet akan memilih tidak ikut campur krn dia toh tidak setuju adanya pemilu. Namun faktanya dia justru pura2 bersikap netral tapi di sisi lain terus menerus membully Jokowi. Perihal pemilu dan motif dibalik keterlibatannya akan kami sampaikan di akhir kultwit ini. Sekarang kita kembali bahas latar belakangnya.

Mantan suami Ratna Sarumpaet, Achmad Fahmy Alhady adalah pengusaha sukses di bidang hiburan malam. Kelak setelah meninggalnya sang suami melalui anak2nya Ratna Sarumpaet menggugat hak waris. Akhirnya mereka memenangkan gugatannya. Jadi Atiqah Hasiholan ini selain cantik juga kaya. Ratna Sarumpaet ini juga mendirikan lembaga bernama Ratna Sarumpaet Crisis Center. Salah satu aktivitas Ratna Sarumpaet Crisis Center adalah memberikan pendampingan atau bantuan hukum plus. Yg dimaksud plus disini adalah bantuan hukum plus kesan terdzolimi dari klien yg dibela oleh seorang aktivis HAM.

Apakah bantuan hukumnya sukarela? Tentu saja tidak, ada plus fulusnya jg. Dalam beberapa kasus dia tak segan menghentikan kerjasama dg kliennya. Kasus Manohara contohnya, dengan tegas Ratna Sarumpaet menghentikan kerjasama bantuan hukum karena ada ketidak cocokan. Watak keras kepala dan cenderung otoriter Ratna Sarumpaet ini sudah terkenal diantara orang2 yg mengenalnya. Watak tersebut bisa jadi kelebihannya yg membuatnya menjadi tegas dan tidak kenal kompromi seperti saat ini. Namun banyak orang yg lebih memilih menjauh darinya karena ngeri dgn sikapnya tersebut. Dia sering anggap orang yg tidak sependapat sebagai musuh.

Sebagai orang yg dianggap teguh memegang prinsip Ratna Sarumpaet tampil mengejutkan pada masa2 pemilu kemarin. Terlepas dari pilihan politiknya yg merupakan hak beliau sepenuhnya, namun cara2nya terkesan ajaib bahkan seperti mengkhianati dirinya sendiri. Sebagai orang yang sejak awal tidak setuju dengan proses pemilu Ratna Sarumpaet sudah mengkhianati diri sendiri dengan membully salah satu calon saja. Sebagai orang yg berulangkali mengaku netral Ratna Sarumpaet justru terlihat sangat munafik.
Namun benarkah Ratna Sarumpaet netral? Ataukah dia tak lebih dari seorang munafik belaka? Mari kita lihat bukti2nya. Rupanya sebagai aktivis HAM yg harusnya menentang capres seperti Prabowo ini Ratna Sarumpaet tersandera oleh konflik kepentingan. Bahkan sejak dari hubungan orang tuanya baik Prabowo dan Ratna Sarumpaet sudah terikat oleh sejarah masa lalu. Baik ayah Prabowo maupun Ratna Sarumpaet sama2 terlibat dlm pemberontakan PRRI. Orang tua mereka bahkan jadi petinggi2nya.

Saladin Sarumpaet (Ayah Ratna Sarumpaet) adalah Menteri Pertanian dan Perburuhan kabinet PRRI. Sedangkan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah Prabowo) adalah Menteri Perhubungan dan Pelayaran kabinet PRRI. Dari latar belakang ini saja kita bisa melihat Ratna Sarumpaet dan Prabowo punya kedekatan emosional, sama2 anak mantan pemberontak. Mungkin karena kedekatan hubungan orang tua ini pulalah maka kakak Ratna Sarumpaet, Mutiara Sani kemudian menjadi petinggi Gerindra. Mutiara Sani tercatat sebagai salah seorang Dewan Pakar Partai Gerindra.

Mutiara Sarumpaet Sani ini juga menjadi caleg Partai Gerindra, dan tentu saja sebagai public figure Mutiara Sarumpaet Sani juga menjadi jurkam resmi Gerindra. Dari fakta diatas kita bisa melihat adanya konflik kepentingan dari seorang Ratna Sarumpaet. Masih percaya dia netral? Tak cukup sampai disitu, anak kesayangannya yg cantik dan seksi, Atiqah juga punya keterkaitan dg Prabowo
Bukan rahasia umum peran Rob Allyn pada kampanye Prabowo-Hatta. Salah satu peran 'bersihnya' adalah membuat film pencitraan Prabowo. Disini kita bisa melihat kerjasama Hashim dan perusahaan film milik Rob Allyn, Margate House.
Dimana salah satu film produksi Rob Allyn ini berjudul "Java Heat". Tahukah anda siapa pemerannya? Siapa lagi jika bukan Atiqah Hasiholan puteri kesayangan Ratna Sarumpaet.
Jadi terang benderang sudah motif Ratna Sarumpaet membela Prabowo. Dia punya kepentingan tidak langsung disana. Terang benderang pula apa alasan gigihnya Ratna Sarumpaet membully Jokowi selama kampanye hingga detik ini. Jadi bohong besar jika Ratna Sarumpaet mengatakan dia bukan pendukung Prabowo. Dia hanya munafik! Peran Ratna Sarumpaet ini mirip dengan peran Nanik S Deyang yg diposisikan pada pihak yg "tidak punya kepentingan". Rupanya skenario ini juga dipakai untuk saksi-saksi Gerindra di MK hari ini. Berperan sebagai masyarakat yg tidak punya kepentingan.

Mungkin tujuannya untuk mengesankan bahwa Prabowo adalah pemimpin yg dicintai sehingga mampu membuat orang terpanggil secara suka rela. Tapi jaman informasi ini orang tidak lagi bisa melakukan kebohongan publik semacam itu. Pasti cepat ketahuan sandiwaranya, dan Ratna Sarumpaet adalah aktifis HAM yg akan kehilangan integritasnya karena aksi tipu-tipunya ini. Dia bukanlah orang yg jujur.

Mungkin publik lebih bisa menerima jika sejak awal Ratna Sarumpaet jujur menyatakan dukungannya terhadap Prabowo. Namun sebagai orang yg dulu pernah menolak pemilu lalu mendukung salah satu capres mungkin terlalu memalukan bagi dirinya. Sikap keras kepala Ratna Sarumpaet ini harus dibayar dengan menipu diri sendiri dan orang lain. Sungguh pribadi yg mengerikan.

Ketika Suharto masih berkuasa,  pada akhir 1997 Ratna mengorganisasi lebih 40 LSM dan Organisasi-organisasi Pro Demokrasi di kediamannya, ia membentuk aliansi Siaga. Suatu organisasi yang pertama kali, terbuka menyerukan agar Suharto turun,  Menjelang Sidang Umum MPR, Maret 1998, ketika pemerintah mengeluarkan larangan berkumpul bagi lebih dari lima orang, Ratna bersama Siaga justru menggelar Sidang Rakyat "People Summit" di Ancol.

Pertemuan ini dikepung oleh bertruk-truk aparat. Ratna, bersama tujuh kawannya dan putrinya (Fathom) ditangkap dan ditahan dengan tuduhan makar. Sesaat setelah Ratna ditangkap,  salah seorang diplomat asing di Indonesia mengatakan dihadapan wartawan, a.l sbb:  "Perempuan ini memberikan nyawanya untuk perubahan. Ia punya kualitas pemimpin yang dibutuhkan Indonesia kalau Indonesia betul-betul mau berubah".

Karena mahasiswa mengancam akan mengepung untuk membebaskan Ratna, yang dikurung 70 hari dalam penjara aparat, sehari sebelum Suharto resmi lengser, Ratna dibebaskan. Setelah Suharto lengser, bersama Siaga, 14-16 Agustus 1998, Ratna Sarumpaet  menggelar "Dialog Nasional untuk Demokrasi" di Bali Room, Hotel Indonesia. Hadiri sekitar 600 peserta dari seluruh Indonesia.

Keterlibatannya dalam Peristiwa Semanggi II membuat Ratna kembali mejadi target. Sebuah skenario dirancang di Cilangkap. Ia dituduh mengelola gerakan para militer dan dituduh bekerjasama dengan tokoh militer tertentu melakukan pelatihan militer di wilayah Bogor. Ia juga dituduh bekerja sama dengan Ninja, Jepang. Menhankam Pangab waktu itu bahkan secara khusus menggelar petemuan dengan para editor se-Jakarta mempresentasikan dan menekankan betapa berbahayanya Ratna.

Oleh kawan-kawannya Ratna kemudian disembunyikan. Oleh situasi politik yang terus meruncing November 1998, Ratna akhir diungsikan ke Singapura dan selanjutnya ke Eropa. Awal Desember 1998, ARTE, sebuah stasiun televisi Perancis dan Amnesty International mengabadikan perjalanan Ratna sebagai pejuang HAM dalam sebuah film dokumenter (52 menit) berjudul The Last Prisoner of Soeharto.

Pada peringatan 50 tahun Hari HAM sedunia, film ini ditayangkan secara nasional di Perancis dan Jerman. Pada saat yang sama, Ratna hadir di Paris di tengah Kongres para pejuang HAM yang berlangsung di sana. Di tengah pertemuan bergengsi ini hati Ratna miris mendengar bagaimana dunia mengecam Indonesia sebagai salah satu Negara pelanggar HAM terburuk. Ia mendengar secara lebih lengkap berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan Orde Baru seperti di Timor Timur dan Aceh.

Ia mendengar nama mantan presiden Suharto dan nama sejumlah tokoh militer RI disebut-sebut sebagai otak berbagai pelanggaran HAM di Indonesia. Namun ketika pada acara puncak, 10 Desember 1998, Ratna menyampaikan pidato (di samping tokoh dunia lainnya seperti Ramos Horta), tanpa maksud membela pelanggaran HAM yang dilakukan Orde Baru, Ratna mengeritik keras negara-negara besar seperti USA, Jerman dan Inggris. Sebagai pensuplai senjata, pendidikan tentara dan peralatan perang, Ratna menuding mereka ikut bertanggungjawab atas berbagai pelanggaran HAM di Indonesia.

Usai memberikan pidato, Ratna terbang ke Tokyo untuk menerima "The Female Special Award for Human Rights" dari The Fondation of Human Rights in Asia. Kembali ke tanah air Ratna langsung mengunjungi Aceh. Perasaannya meronta melihat kerusakan kehidupan dan budaya masyarakat Aceh akibat konflik bersenjata yang puluhan tahun melanda wilayah itu dan kesedihannya itu ia dituangkannya dalam sebuah naskah drama ALIA, Luka Serambi Mekah. Ketika Tsunami menghentak Aceh dan Nias, RSCC dijuluki semua pihak sebagai kelompok paling militan. Masuk paling awal mengevakuasi mayat, RSCC berhenti paling akhir. Ratna dan RSCC memutuskan terjun ke Lamno di Aceh Barat, membantu 550 kepala keluarga di sana. Sampai dua minggu setelah Tsunami wilayah tidak ditoleh pihak manapun karena medannya yang sulit dan dianggap menakutkan sebagai wilayah GAM. Untuk semua kerja kerasnya itu, Masyarakat Aceh memberikan pada Ratna penghargaan "Tsunami Award".

Tahun 2008, kritik-kritik keras Ratna atas perlakuan pemerintah terhadap korban lumpur panas Lapindo yang dianggapnya sudah tidak manusiawi, juga memaksa kedudukannya sebagai panelis utama di sebuah 'Talk Show' di sebuah stasion televisi digoyang, dan Ratna yang sangat sensitif urusan demokrasi ini memutuskan mundur.

Seputar Berita ~ di kutip dari : Lisa Kurniasih

Related

Berita-unik 5829472900776381311

Facebook

Hot in week

Highlights

The Slider

Casino online indonesia

Facebook

health

judi bola online

Content Dewasa

item